* Kesederhanaan dan Kenyamanan: Sementara wanita lain mengenakan korset, kain berornamen tebal, dan penuh hiasan, Chanel lebih menyukai desain sederhana dan nyaman yang memberikan kebebasan bergerak. Dia sering mengenakan gaun dan sweter rajutan jersey longgar, bahan yang sebelumnya digunakan terutama untuk pakaian dalam pria.
* Pengaruh Maskulin: Chanel meminjam elemen dari pakaian pria dan menggabungkannya ke dalam desainnya. Dia mempopulerkan celana panjang untuk wanita, setelan jas yang terinspirasi dari jahitan pria, dan bahkan elemen seperti blazer dan jaket perahu. Ini merupakan perubahan radikal dari gaya hiper-feminin pada masa itu.
* Hemline Lebih Pendek: Ketika hemline secara bertahap meningkat pada tahun 1920-an, Chanel berada di garis depan, menganjurkan rok pendek yang berakhir di betis, memungkinkan wanita untuk berjalan dan menari dengan lebih mudah.
* Keanggunan Fungsional: Chanel percaya bahwa pakaian harus praktis dan juga indah. Ia merancang pakaian yang mudah dipakai, mudah dirawat, dan cocok untuk gaya hidup modern dan aktif.
* Penggunaan Jersey: Chanel adalah salah satu perancang busana kelas atas pertama yang membuat gaun dari rajutan jersey, yang biasanya digunakan untuk membuat pakaian dalam pria.
* Perhiasan: Chanel menyukai perhiasan kostum dan mengenakan kalung, gelang, dan bros berlapis-lapis. Dia mendorong perempuan untuk memadukan perhiasan asli dan palsu, menjadikannya sebagai pernyataan fesyen, bukan sekadar simbol kekayaan.
* Gaun Hitam Kecil: Chanel sering dikreditkan dengan mempopulerkan "little black dress" (LBD), pakaian sederhana dan serbaguna yang menjadi pakaian pokok bagi wanita dari semua kelas. Sebelum Chanel, warna hitam terutama dikaitkan dengan duka.
* Inspirasi Pakaian Olahraga: Desain Chanel dipengaruhi oleh pakaian olahraga, yang mencerminkan meningkatnya minat terhadap aktivitas luar ruangan dan gaya hidup yang lebih santai.
* Kulit sawo matang: Chanel adalah salah satu trendsetter pertama yang mempopulerkan kulit kecokelatan. Pada saat itu, kulit pucat menjadi standar masyarakat kelas atas, dan kulit sawo matang diasosiasikan dengan kelas pekerja.