* konsentrasi pelarut tinggi: Poles crackle mengandung konsentrasi pelarut yang tinggi, seperti alkohol dan ester yang mudah menguap, dibandingkan dengan cat kuku biasa. Pelarut ini menguap dengan sangat cepat.
* Waktu pengeringan cepat: Penguapan cepat dari pelarut ini adalah faktor yang paling penting. Saat pelarut menguap, lapisan Polandia menyusut dan mengering dengan sangat cepat.
* Bahan yang tidak kompatibel: Formulasi mengandung bahan -bahan yang tidak mengikat bersama dengan lancar atau merata. Ini berarti film yang terbentuk sebagai pengering Polandia secara inheren tidak stabil.
* Formasi Film Tipis dan Kaku: Bahan pengeringan dan tidak stabil yang cepat mengarah pada pembentukan film yang tipis, rapuh, dan kaku di permukaan kuku.
* stres dan ketegangan: Karena semir mengering begitu cepat dan menyusut secara tidak merata, ketegangan menumpuk di dalam film. Ini mengering lebih cepat di permukaan daripada di bawahnya.
* Retak (retak): Ketegangan akhirnya melebihi kemampuan film untuk bertahan bersama, menyebabkannya patah, menghasilkan efek crackle yang khas. Warna dasar di bawahnya kemudian terungkap melalui retakan ini.
Intinya, ini adalah proses terkontrol dari pengeringan cepat, penyusutan, dan ketidakcocokan yang menyebabkan polesan pecah menjadi pola yang berderak.
Pertimbangan penting:
* Coat dasar: Mantel dasar yang halus dan kering sangat penting. Ini memberikan permukaan yang stabil untuk melekat pada polesan yang melekat dan memungkinkan proses retak terjadi secara efektif.
* Ketebalan: Menerapkan semir crackle dalam lapisan yang lebih tipis umumnya menghasilkan retakan yang lebih kecil dan lebih rumit. Lapisan yang lebih tebal cenderung menghasilkan retakan yang lebih besar dan lebih jelas.
* Top Coat: Mantel atas diperlukan untuk menyegel efek berderak, mencegah chipping, dan memberikan hasil akhir yang halus dan mengkilap.
* Formulasi bervariasi: Kombinasi yang tepat dari pelarut dan bahan -bahan lain akan berbeda dari merek ke merek, yang mengarah ke berbagai pola crackle.